Kisah Seram Ketika Mendaki Gunung Gede Pangrango

Hello sobat semuanya ! Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman pribadi saya yang paling menyeramkan ketika mendaki sebuah gunung. Namanya Gunung Gede, berada di pulau Jawa bagian barat. Gunung Gede ini letaknya di tiga wilayah Kabupaten, yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi dengan ketinggian 1.000 – 3.000 mdpl. Untuk menuju ke Gunung Gede ini kita bisa melewatinya melalui gerbang utama Cibodas dan Cipanas.

Foto: dokumen pribadi tahun 2001

Oke, kita langsung saja ke cerita tentang pengalaman saya yang paling menyeramkan ketika mendaki Gunung Gede. Pada waktu itu kejadiannya sudah lumayan lama sekali sih yaitu sekitar tahun 2001-an kalau tidak salah (sudah cukup lama juga ya), tapi tidak apa-apa lah yang penting bisa berbagi pengalaman dengan sobat semua.

Pertama-tama perkenalkan lah diri saya, sebut saja saya Bimbim dan kelima teman saya adalah Zawir, Yen-yen, Ucok, Odeth, dan satu di antaranya seorang perempuan yaitu Jeni namanya. Kami berenam pada waktu itu adalah enam sekawan yang bekerja di sebuah perusahaan di kota Bogor, untuk melakukan pendakian Gunung Gede kami berenam sepakat mengambil cuti kerja.

Pada hari jumat di tahun 2001 tepatnya jam 1 siang kami melakukan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum atau bus dari tempat tinggal kami yaitu dari Bogor menuju Cianjur. Kami akan melakukan pendakian Gunung Gede melalui jalur atau rute Cipanas, karena menurut kami jalur tersebut lebih enak dilalui dan kami telah melakukan 1 kali sebelumnya mendaki Gunung Gede di jalur atau rute itu dari pada melalui jalur Cibodas. Kami sampai ketujuan kira-kira sekitar jam 5 sore, sesampainya di Cipanas kami sejenak istirahat sebentar sambil mengisi perut dan mengecek peralatan kami terlebih dahulu. Setelah semuanya sudah siap dan badan fit, jam setengah 7 malam kami berada di pos utama (penjagaan) untuk melakukan pendaftaran pendakian dan mulai start mendaki Gunung Gede Bogor.

Foto: nongkrong di pos utama

Kami memilih waktu malam hari ketika mendaki gunungnya,karena menurut kami kalau mendaki gunung malam-malam lebih mengasyikan dan lebih santai, juga tidak membuat kita cepat lemas ataupun letih. Dikarenakan saya membawa seorang teman perempuan jadi mendaki gunungnya santai saja, sebentar-sebentar istirahat yang penting selamat sampai tujuan.

Foto: berpose dengan lampu senter

Kami berenam telah melewati beberapa pos penjagaan, lalu kami melewati aliran sungai yang sangat licin sekali dan airnya panas pula. Apalagi kami melewatinya tengah malam, membuat bulu kuduk menjadi merinding. Ada satu cerita, kata teman saya yang bernama Ucok bahwa di tempat itu suka ada penampakan seorang wanita dan suka mengganggu (katanya sih). Meskipun kami tengah malam melewati kali atau aliran sungai tersebut, alhamdulillah kami melewatinya dengan aman dan selamat. Lalu, sampai lah kami di pos yang namanya “Kandang Badak”. Kami sampai di pos Kandang Badak sekitar jam 2 malam, kemudian kami ngecamp di pos tersebut.setelah mendirikan tenda, kami beristirahat dan berencana besok pagi untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Gede.

Tepat jam 7 pagi kami beres-beres dan sarapan pagi sebelum melanjutkan perjalanan, seperti biasa anak gunung sarapan paginya nasi liwet dan mie rebus pakai telor. Setelah semua peralatan sudah di bereskan, kami sudah siap untuk berangkat kembali melanjutkan pendakian Gunung Gede. Sebelum menuju ke puncak gunung kami harus melewati jalur yang namanya “Tanjakan Setan” terlebih dahulu (dari namanya aja serem banget khan?), menurut kata para pendaki sih tanjakan setan itu sangat angker dan cukup berbahaya untuk dilalui karena tanjakan tersebut sangat terjal.

Foto: action di “Tanjakan Setan”

Sekitar jam 11 siang kami telah sampai di puncak Gunung Gede, saya dan kelima teman saya merasa senang bersuka ria sambil berfoto-foto menikmati indahnya puncak Gunung Gede. Di saat kami bersuka ria, salah satu teman saya yang perempuan yaitu Jeni jatuh sakit, dia mengalami muntah-muntah sehingga badannya menjadi lemas, mungkin karena pertama kali mendaki gunung jadinya dia sakit. Setelah Jeni sudah di obati dan sudah agak baikan, kedua teman saya yang bernama Yen-yen dan Zawir memutuskan untuk turun gunung lebih duluan dikarenakan ada keperluan yang mendadak. Supaya tidak kemalaman saat turun gunung, mereka berdua cepat-cepat bergegas dari puncak Gunung Gede. Jadi tinggal saya, Ucok, Odeth, serta Jeni yang masih berada di Gunung Gede.

Foto: ketika berada di puncak gunung gede
Foto: setelah Jeni muntah di puncak gunung gede

Setelah puas berlama-lama menikmati keindahan puncak Gunung Gede, kemudian kami kembali turun gunung cuma berempat karena dua orang teman kami telah pulang duluan. Sebelumnya kami telah merencanakan untuk ngecamp beberapa hari dulu di alun-alun Surya Kencana, lalu kami pun tiba di tempat itu sekitar jam 3 sore. Banyak sekali para pendaki gunung lainnya yang ngecamp di sekitar tempat perkemahan tersebut, sehingga kami memilih membuat tenda posisinya paling atas, di tempat itu kira-kira ada sekitar ratusan tenda yang telah berdiri.

Nah, dari sini lah awal Kisah Seram Ketika Mendaki Gunung Gede Pangrango,Bogor. Saya dan ketiga teman salah satunya perempuan yang sedang sakit itu selesai mendirikan tenda sekitar jam 5 sore, dilanjutkan dengan acara makan, setelah itu kami bersantai ria di dalam tenda saja.

Sekitar jam 8 malam ketika kami santai sambil bercanda gurau di dalam tenda, terdengar suara teriakan-teriakan atau sahut-sahutan dari para pendaki yang mendirikan tendanya di bawah, tengah, dan atas di sekitaran alun-alun Surya Kencana. Bahkan di samping atau sebelah tenda kami pun saling berteriak-teriakan ataupun bersahut-sahutan sampai bergema, mereka saling ejek-ejekan gurauan dan berbalas pantun antara penghuni tenda yang satu dengan penghuni tenda lainnya.

Kami hanya diam sambil menyimak dan hanya bisa tersenyum bahkan tertawa cekikikan karena lucu mengelitik mendengarnya, karena mereka teriak-teriak berbalas pantun itu bukan untuk menantang satu sama lainnya, tapi hanya bersenda gurau untuk membuat sebuah kelucuan atau lelucon dan hanya sekedar hiburan saja di tempat itu. Mungkin cuma caranya saja yang salah, berteriak-teriak sampai suaranya bergema mengganggu para pendaki lainnya yang sedang istirahat.

Dari jam 8 malam hingga jam 11 malam mereka masih saja bersahut-sahutan saling bercanda, baru bisa berhenti sekitar jam 12 malam ketika turun hujan lebat mengguyur sekitar kawasan kami berada. Suasana sepi dan sunyi memasuki jam 1 malam, kami bertiga masih belum bisa tidur, kecuali Jeni yang sedang sakit sudah tidur pulas duluan sekitar jam 10an karena kecapean. Kira-kira jam 2 malam terdengar suara pelan dari tenda sebelah yang jaraknya sekitar 300 meter dari tenda kami, terdengar samar-samar sekitar lebih dari sepuluh suara orang penghuninya. Mereka ada yang menangis, berdo’a, bahkan ada pula yang mengaji Al-Quran.

Kemudian lama-kelamaan suara orang-orang tersebut semakin lama semakin keras suaranya, yang menangis semakin meraung-raung tangisannya, yang berdoa dan mengaji semakin bergemuruh suaranya, bahkan ada yang berteriak ketakutan juga. Si Odeth berbisik kepada saya dan Ucok, bahwa dia mendengar suara samar cekikikan seorang perempuan di luar sana dan setelah itu terdengar suara seperti ada seseorang yang melemparkan sebatang kayu ke arah tenda mereka. Kami pun langsung ketakutan, apalagi ditambah mendengar riuhnya suara-suara orang ketakutan di luar tenda sana membuat bulu kuduk kami bertiga semakin merinding sehingga kami bertiga tidak bisa tidur karena ketakutan juga.

Saya melihat waktu sudah menunjukan jam setengah 4 pagi, tapi kami mendengar suara-suara mereka tidak henti-hentinya dari jam 2 malam sampai jam setengah 4 pagi masih saja bergemuruh membacakan do’a-do’a, dan terdengar dilanjutkan dengan sholat subuh berjama’ah sekitar jam setengah 5 pagi.

Kami berpendapat bahwa mereka telah di teror oleh makhluk halus, yaitu penghuni atau penunggu alun-alun Surya Kencana. Mereka telah berteriak-teriak artinya menantang penghuni atau penunggu tempat tersebut, sehingga para mahluk halus di tempat itu merasa terusik oleh teriakan-teriakan mereka.

Foto: saat ngecamp di alun-alun surya kencana

Jam 6 pagi saya dan Ucok pergi mencari air bersih untuk memasak, tetapi di luar sana yaitu di sekitar alun-alun Surya Kencana terjadi badai kabut. Kami berdua merasa kedinginan yang teramat menyiksa,
dinginnya menusuk-nusuk hingga ke dalam seluruh tulang dalam tubuh maupun ulu hati serta membuat kaki dan tangan terasa kebal sekali meskipun sudah mengenakan jaket tebal, sarung tangan, dan kaos kaki. Untuk menerobos jalan pun kita harus hati-hati karena jarak pandang yang pendek, baru kali ini saya merasakan dahsyatnya badai kabut yang teramat dingin ketika mendaki sebuah gunung.

Akhirnya setelah saya dan Ucok mendapatkan air bersih untuk memasak kami berdua kembali ke tenda, setibanya di tenda kami pun langsung memasak makanan untuk sarapan pagi. Ketika kami sedang memasak makanan tiba-tiba datang lah tiga orang laki-laki dari tenda sebelah yang semalam merasa ketakutan, salah seorang dari mereka menanyakan apakah di tenda kami ada seorang perempuan? lalu saya menjawab: “Oh iya, di sini ada seorang perempuan tapi dia sedang sakit dan tidur pulas dari jam 10 malam” memangnya ada apa? (saya balik bertanya dan pura-pura tidak tahu tentang kejadian semalam tadi).

Lalu mereka mengatakan bahwa semalam salah satu teman mereka melihat sesosok perempuan lewat di dekat tenda mereka, kemudian tiba-tiba menghilang. Setelah itu terdengar tangisan seorang perempuan,tak lama kemudian terdengar pula suara cekikikan seorang perempuan berulang kali, dan yang paling mengagetkan ketika ada suara sebatang kayu di lemparkan ke tenda mereka. Setelah mengobrol sebentar menceritakan kejadian semalam, lalu mereka bertiga meninggalkan kami. Selang 1 jam kemudian mereka balik lagi ke tenda kami untuk memberikan bekal makanan seperti beras, indomie, dan sarden kepada kami. Katanya pagi ini mereka yang berjumlah 12 orang akan turun gunung atau pulang, padahal mereka merencanakan akan berkemah di alun-alun surya kencana sekitar 3-5 harian.

Mengingat kejadian semalam dan melihat mereka yang kena teror mahluk halus semalam langsung buru-buru pulang, kami pun seketika itu langsung beres-beres atau berkemas pulang untuk turun gunung juga. Padahal kami berempat rencananya akan melewati atau menikmati satu malam lagi ngecamp di alun-alun surya kencana, semua bekal makanan terpaska kami berikan lagi kepada pendaki gunung lainnya. Kami lalu turun gunung melewati hamparan taman bunga edelweis yang sangat luas sekali sehingga saya sangat terpesona akan tempat itu, jalur atau rute yang kami lewati yaitu jalur Cibodas.

Di pagi hari yang cerah kami melakukan perjalanan turun gunung, setelah aman dan selamat sampai di bawah kami istirahat sejenak dan mengisi perut yang kosong yaitu makan siang di warung nasi padang. Lalu kami pulang ke Bogor menuju rumah dengan menaiki sebuah bus, di dalam bus saat menuju pulang apa yang terjadi sobat? ternyata perut saya mulas dan mual-mual karena gara-gara makan nasi padang serta karena akibat dari semalam sama sekali tidak tidur, akhirnya saya pun muntah di dalam bus tersebut (heheheheheee).

Singkat cerita kami berenam berkumpul kembali membahas atau menceritakan saat pendakian ke Gunung Gede. Pada waktu itu dua teman saya yang bernama Yen-yen dan Zawir telah pulang atau turun gunung duluan, tahu kah apa yang terjadi dengan kedua teman saya itu sobat? mereka berdua bercerita kepada saya bahwa pada saat turun dari puncak Gunung Gede sekitar jam 1 siang, mereka jalannya buru-buru karena takut kemalaman. Saat dalam perjalan pulang itulah tiba-tiba ditengah perjalanan kedua teman saya mendengar “auman” suara harimau atau macan, lalu keduanya lari terbirit-birit ketakutan takut di kejar oleh harimau atau macan tersebut sambil kerusak-kerusuk mencari jalan pulang. Untungnya kedua temen saya itu masih tetap bersamaan tidak memisahkan diri dan mereka melihat seekor burung jalak, kemudian burung jalak tersebut selalu mengikuti mereka berdua hingga tiba di kaki Gunung Gede dengan selamat. Seandainya saja mereka berdua terpisah mungkin mereka akan tersesat di Gunung Gede, entah bagaimana nasibnya.

Kedua teman saya itu Yen-yen dan Zawir lalu melanjutkan ceritanya kepada kami. Katanya setelah selamat mereka beristirahat sejenak singgah di warung kopi untuk melepas lelah, bahkan sekujur tubuhnya sakit karena terbentur oleh akar pohon dikarenakan lari terbirit-birit. Di saat itu lah mereka berdua langsung bercerita tentang kejadian yang baru saja dialaminya kepada seorang bapak yaitu pemilik warung kopi, setelah itu bapak tersebut juga bercerita bahwa katanya beberapa bulan yang lalu ada seorang perempuan pendaki gunung yang meninggal di sekitar alun-alun Surya Kencana akibat kecelakaan, entah apa kecelakaannya bapak itu kurang mengetahuinya.

Setelah mendengar cerita dari Yen-yen dan Zawir serta dari bapak penjual warung kopi tersebut, saya dan ketiga teman saya yang waktu itu ngecamp di alun-alun Surya Kencana saling “melongo” berpandang-pandangan. Jangan-jangan yang meneror waktu ngecamp di alun-alun adalah perempuan itu ?

Cukup sekian pengalaman pribadi saya paling menyeramkan ketika mendaki Gunung Gede, Bogor. Semoga dengan postingan saya ini sobat semua khususnya para pendaki gunung atau para pecinta alam untuk lebih sopan, tidak bertingkah aneh ataupun sombong (songong) dan takabur, apalagi sok jagoan ketika mendaki sebuah gunung bisa-bisa nanti celaka. Ikuti aturan tradisi adat istiadat di setiap tempat, selalu berpamitan dalam melakukan suatu hal ketika mendaki sebuah gunung, serta luruskan niat insyaallah selamat. Terimakasih,salam rimba.

Loading...
Kisah Seram Ketika Mendaki Gunung Gede Pangrango User Rating: 4.5 ( 317 votes)
error: Content is protected !!